Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Labels

Labels

Labels

Showing posts with label ISD. Show all posts
Showing posts with label ISD. Show all posts

Tuesday, April 12, 2011

harapan

Dengan sebuah harapan akankah wajah yang semula mengkerut dapat berubah menjadi tersenyum lebar? Hmmm..dunia memang serba bisa mengubah segalanya, karena ia dapat berputar dan secara otomatis akan memutar segala sesuatu yang ada di dalamnya, termasuk harapan itu sendiri. Bagaimana sebuah harapan itu bergeser dari keinginan menjadi wujud nyata? Ya, kita musti menggerakkannya. Bagaimana pula bintang bintang yang memenuhi isi kepala beranjak dari mimpi menuju panggung pertunjukan yang disebut kehidupan? Mungkin akan terjawab bila harapan itu ditindaklanjuti dengan sebuah usaha dan disertai oleh rasa optimis. Mungkin!

harapan itu memang ada meskipun bersifat abstrak – tidak tampak – namun diyakini – bahkan disugesti dalam batin untuk diwujudkan. Kalau saya mempersepsikan jawaban jawaban tersebut maka harapan itu berupa kesempatan/peluang, mungkin kesempatan untuk (bertahan) hidup, kesempatan untuk mendapat sesuatu terlebih untuk sesuatu yang tidak bersifat kebendaan atau kesempatan yang hanya bisa diraih bila ada campur tangan Sang Pemberi Kesempatan.
Jadi harapan itu sendiri akan membentuk pola berpikir bagaimana sesuatu akan (bisa) terjadi, bila ia besar maka akan bersifat menarik, bila ia kecil biasanya bersifat mendorong. Maka kita akan menariknya dengan doa dan mendorongnya dengan usaha.
Bagi saya harapan itu merupakan fenomena, masih sebatas wacana. Oleh karena itu saya tetap dan tetap terus membuat harapan agar saya bisa mengubah wacana itu menjadi sebuah realita. Demikian cara saya memandang sebuah harapan, cara saya agar tidak bosan membuat harapan dan cara saya meningkatkan kualitas sebuah harapan. Saya pikir mendorong sesuatu ke atas itu tidak selalu dimaknai sebagai hal yang dirasa tidak enak (rekoso) dari pada menarik sesuatu ke bawah. Karena saya senang berproses.
Setidaknya harapan tentang yang satu ini bisa membuat saya benar-benar tersenyum lebar. Harapan apa?
harapan kalo kelak saya akan berhasil dan membahagiakan seluruh orang disekitar saya yang saya sayangi..^_^

Friday, April 8, 2011

Kegelisahan hati

HATI....kadang jika mendengar kata ini,tidak jauh maka akan berhubungan dengan perasaan.Kadang menyebabkan kita menjadi senang sesenang senangnyaa atau mungkin gelisah segelisah gelisahnya..mengapa demikian???/tak ada seorangpun yang tau..include me..hehehe...
Sahabat..saya ingin berbagi sedikit apa dan kenapa saya sering merasakan kegelisahan hati????
Dulu saya memiliki someone yang bisa dikatakan special,namun ya begitu,,meski dia memang special,saya belum tentu memilikinya seutuhnya,,dikarenakan suatu hal yang membuat saya ataupun dia serasa jauh meski dekat..Lama saya mengenal dia hampir 3 tahun,dan selama itu pula saya telah belajar dan memahami dia sepenuhnya..Akhirnya kami pun sepakat berpisah karena satu hal yang saya katakan tadi,dan tak bisa saya ungkapkan..3 bulan lamanya saya berpisah,,dan itulah masa masa dimana saya merasakan kegelisahan,ingin rasanya menghubungi namun tak sanggup,ingin rasanya berjumpa lagi namun tak bisa..baik saya maupun dia berusaha tuk menjauh satu sama lain..waktu terus berjalan sampai akhirnya setelah hampir 3 bulan berpisah..dia hadir kembali dalam hidup saya..Dan itulah menjadi titik balik semuanya,sepercik harapan tuk mengulang hubungan yang dulu tlah kandas menjadi muncul,perasaan yang dulu sudah mulai terkubur kini bangkit kembali..Sekarang saya berjalan dan berada didekatnya kembali dengan penuh kebahagiaan dan  dengan segala tanya..Apakah mungkin tuk bersama dengannya sampai akhir nanti????

Hmm..ntahlah..hidup tak ada yang tau,masa depan tak ada yang tahu karena semua adalah rahasia Sang Kuasa,disini saya berjalan dengan penuh harapan,kelak bisa terus bersamanya..Meski demikian,hati ini juga slalu merasa gelisah..karena ketakutan akan kepergiannya tuk kedua kali...
And I hope,that she always with me....^_^

Tanggung Jawab

Tanggung jawab adalah sesuatu yang mungkin tak asing didengar oleh para sahabat sekalian.saya ingin berbagi sedikit melalui blog ini tentang apa saja tanggung jawab yang saya tanggung sampai sedewasa ini.
Sebelumnya saya ingin bercerita,saya adalah anak pertama dari 3 bersaudara yang mungkin cukup mengemban tanggung jawab besar sebagai anak pertama..
Beberapa tanggung jawab yang menurut saya yang harus saya kemban adalah :
1. Saya bertanggung jawab untuk kehidupan ade - ade saya kelak,apalagi jika kelak orangtua telah tiada,(tapi   saya berharap orangbtua saya panjang umuar):-)

2. Saya harus mampu membawa nama baik keluarga agar kelak tidak ada orang yang memandang sebelahmata keluarga saya.
3.Saya bertanggung jawab penuh terhadapa visi dan misi saya untuk mencapai tujuan yang saya impikan
Mungin untuk saat iini,itulah inti dari semua tanggung jawab saya,yang berfokus hanya kepada keluarga.
Banyak hambatan yang saya hadapi ketika berusaha untuk tetap bertanggung jawab,meski kadang merasa gagal,tapi saya tetap berusaha dan berjuang sedemikian rupa untuk bangkit meski harus terseret - seret,karena tanpa adanya tanggung jawab dari diri kita sendiri,maka tidak mungkin untuk kita mencapai apa yang kita sebut dengan Tujuan...^_^
sooo..tetap semangat dan tetap berjuang...

Saturday, April 2, 2011

PAndangan Hidup

Terbang Bersama Keheningan

Berat, itulah kata yang bisa mewakili tantangan hidup kekinian. Orang miskin dihadang penyakit di sana-sini. Orang kaya alisnya dibikin berkerut oleh berbagai masalah. Sebagian malah sudah di penjara, sebagian lagi menunggu giliran untuk beristirahat di tempat yang sama. Manusia biasa menggendong berbagai beban ke sana ke mari (dari mencari nafkah, menyekolahkan anak sampai dengan mempersiapkan hari tua), pejabat maupun pengusaha juga serupa: senantiasa ditemani masalah ke mana pun ia pergi. Di desa banyak orang mengeluh, luas tanah tetap namun jumlah manusia senantiasa tambah banyak. Sehingga setiap tahun memunculkan tantangan penciptaan lapangan kerja. Bila tidak terselesaikan ia bisa lari ke mana-mana. Dari kejahatan sampai dengan kekerasan.

Digabung menjadi satu, jadilah kehidupan berwajah serba berat di sana-sini. Tidak saja di negara berkembang, di negara maju sekali pun tantangannya serupa. Kemajuan ekonomi Jepang yang demikian fantastis tidak bisa mengerem angka bunuh diri. Kemajuan peradaban Amerika tidak membuat negara ini berhenti menjadi konsumen obat tidur per kapita paling tinggi di dunia. Jangankan berbicara negeri Afrika seperti Botswana. Rata-rata harapan hidup hanya tiga puluhan tahun. Orang dewasa di sana lebih dari delapan puluh persen positif terjangkit HIV. Sehingga menimbulkan pertanyaan, “Demikian beratkah beban manusia untuk hidup?”

Ada sahabat yang menghubungkan beratnya hidup manusia dengan hukum gravitasinya Newton yang berpengaruh itu. Sudah menjadi pengetahuan publik, kalau Newton menemukan hukum ini ketika duduk di bawah pohon apel, dan tiba-tiba buahnya jatuh. Sehingga Newton muda berspekulasi ketika itu, ada serangkaian hukum berat (baca: gravitasi) yang membuat semua benda jatuh ke bawah. Sahabat ini bertanya lebih dalam, “Kalau gravitasi yang menarik apel jatuh ke bawah, lantas hukum apa yang membawanya naik ke puncak pohon apel?” Dengan jernih ia menyebut the law of levitation (hukum penguapan). Kalau gravitasi menarik apel ke bawah, penguapan menariknya ke arah atas.

Dalam bahasa yang lugas sekaligus cerdas, sahabat ini mengaitkan kedua hukum fisika ini ke dalam dua hukum kehidupan: “Hate is under the law of gravity, love is under the law of levitation”. Kebencian berkait erat dengan gravitasi karena mudah sekali membuat manusia hidup serba berat dan ditarik ke bawah. Cinta berkaitan dengan gerakan-gerakan ke atas. Karena hanya cinta yang membuat manusia ringan dan terbang ke atas. Sungguh sebuah bahan renungan kehidupan yang cerdas dan bernas.

Kembali ke soal hidup manusia yang serba berat, tidak ada manusia yang bebas sepenuhnya dari masalah. Bahkan ada yang menyederhanakan kehidupan dengan sebuah kata: penderitaan! Hanya saja kebencian berlebihan yang membuat semua ini menjadi semakin berat dan semakin berat lagi. Ada yang benci pada diri sendiri, ada yang membenci orang tua, suami, istri, teman, tetangga, atasan, kerja sampai dengan ada yang membenci Tuhan. Perhatikan wajah-wajah manusia kekinian yang miskin senyum, yang mudah tersinggung, yang senantiasa minta diperhatikan, penerimaan bulanan yang serba kurang, dan masih bisa ditambah lagi dengan yang lain. Semuanya berakar pada yang satu: kebencian! Sehingga mudah dimengerti kalau perjalanan hidup seperti buah apel, semakin tua semakin berat dan semakin ditarik ke bawah.

Terinspirasi dari sinilah, kemudian sejumlah guru mengurangi sesedikit mungkin berjalan dalam hidup dengan beban-beban kebencian. Dan mencoba menarik kehidupan ke atas menggunakan sayap-sayap cinta. Semua perjalanan cinta mulai dari sini: mencintai kehidupan. Makanya sahabat-sahabat penekun meditasi Vipasana berkonsentrasi pada keluar masuknya napas. Tidak saja karena membuat manusia mudah terhubung dengan hidup, tetapi berpelukan penuh cinta dengan kehidupan. Dan segelintir penekun Vipasana yang telah berjalan amat jauh, kemudian mengalami cosmic orgasm. Semacam orgasme kosmik yang ditandai oleh terlihatnya keindahan di mana-mana. Karena semuanya terlihat serba indah, tidak ada lagi dorongan untuk mencari jawaban. Bahkan pertanyaan sekalipun sudah lenyap dari kepala. Ini yang disebut seorang guru dengan terbang bersama keheningan.

Ada yang menyebut ini dengan emptiness. Sebuah terminologi timur yang amat susah untuk dijelaskan dengan kata-kata manusia. Namun Dainin Katagiri dalam Returning to Silence, menyebutkan: “The final goal is that we should not be obsessed with the result, whether good, bad or neutral.” Keseluruhan upaya untuk tidak terikat dengan hasil. Itulah keheningan. Sehingga yang tersisa persis seperti hukum alam: kerja, kerja, dan kerja. Dalam kerja seperti ini, manusia seperti matahari. Ditunggu tidak ditunggu, besok pagi ia terbit. Ada awan, tidak ada awan matahari tetap bersinar. Disukai atau dibenci, sore hari di mana pun ia akan terbenam.

Mirip dengan matahari yang tugasnya berbeda dengan awan dan bintang. Kita manusia juga serupa. Pengusaha bekerja di perusahaan. Penguasa bekerja di pemerintahan. Pekerja bekerja di tempat masing-masing. Penulis, menulis. Pertapa, bertapa. Pencinta yoga, beryoga. Pengagum meditasi, bermeditasi. Semuanya ada tempatnya masing-masing. Ada satu hal yang sama di antara mereka: menjadi semakin sempurna di jalan kerja. Soal hasil, sudah ada kekuatan amat sempurna yang sudah mengaturnya. Keinginan apalagi kebencian, hanya akan membuatnya jadi berat dan terlempar ke bawah.